Friday, April 24, 2009

The Miracle of Night

Masih dalam rangkaian Rihlah Wisata Ziarah…

Berangkat pagi pulang petang. Laksana aktivitas burung-burung yang sedang menjemput rizki, mencari makan untuk mempertahankan hidupannya. Begitulah kira-kira gambaran perjalanan kami yang bertolak di pagi hari dari rumah dan pulang dari Tuban di saat langit mulai tampak kemerahan dan wajah matahari pun semakin menghilang di ufuk barat. Setelah cape menyusuri lorong-lorong goa akbar sampai badan ini sedikit basah oleh keringat bercampur tetesan air yang ada di dalam goa, kami pun kembali menuju bus yang kami tumpangi. Untuk menyegarkan tubuh ini kembali aku mandi terlebih dahulu, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang…

Musafir, itulah sebutan orang yang sedang melakukan perjalanan. Sebagai rombongan musafir kami sengaja melanjutkan perjalanan pulang menjelang maghrib, dengan niat akan melakukan sholat maghrib dan isya’ dalam satu waktu. Kami berniat menjama’ takhir sholat maghrib dan isya’ nanti di masjid Lasem sekalian untuk makan malam.

Setelah melakukan shalat tiga rakaat maghrib dan dua rakaat Isya’ (di-qasar) dan nyari makan, acara selanjutnya adalah melanjutkan perjalanan pulang…

Ada yang beda rasanya…

Waktu perjalanan pada saat berangkat dan pada saat pulang. “Beda gimana maksudnya…?” Tanya seorang teman… “Ya beda artinya itu tak sama” jawabku yang bikin dia masih tanda tanya. Apa sih maksudnya…? Gini lo apa kamu gak ngerasa kalau perjalanan kita waktu pulang itu terasa lebih cepat dibanding waktu berangkat… Iya sih…Trus emangnya kenapa?.

Perjalanan malam hari kan memang beda dengan perjalanan malam hari. Kita kan pulang malam hari sedangkan berangkat pada pagi hari. Nah perjalanan di malam hari itu memang bisa lebih cepat dibanding siang hari. Transportasi malam hari kan tidak sepadat pada pagi/siang hari. Jadi bus bisa melaju dengan cepat dan bebas hambatan/lebih sedikit traffic load-nya.

­­­­­­­Kenapa malam hari?
Masih ingat peristiwa Isra’ nya Rasulullah Saw?
Perjalanan dari masjidil Haram (Makkah) menuju masjidil Aqsa (Palestina) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad bersama Jibril juga dilakukan pada malam hari. Sempat juga aku berfikir kenapa perjalanan itu dilakukan pada malam hari dan bukan siang hari…

Mengutip dari bukunya Mas Agus Mustofa yang berjudul : “Terpesona di Sidratul Muntaha” disana diuraikan alasan teknis mengapa nabi di-isra’-kan pada malam hari.
Ada 2 kata kunci yang bisa menjelaskan kenapa isra’-nya Nabi dilakukan pada malam hari yang diambil dari Q.S. Israa’:1.

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjidil haram ke masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Kata kunci Pertama, Yang telah memperjalankan. Ternyata perjalanan yang fenomenal itu memang bukan kehendak Rasulullah Saw sendiri, melainkan kehendak Allah Swt. Kenapa demikian? Karena kata yang digunakan Allah untuk menginformasikan hal itu adalah “memperjalankan”. Ini membuktikan bahwa Allah lah yang telah memperjalankan Muhammad Saw. Bersama Jibril Nabi dibawa melanglang “ruang” dan “waktu” dalam alam semesta ciptaan Allah. Jibril sengaja dipilih oleh Allah untuk mendampingi beliau kaena dia adalah makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Dengan badan cahayanya itu Jibril bisa membawa Rasulullah Saw melintasi dimensi-dimensi yang tak kasat mata. Perjalanan waktu itu juga disertai oleh Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut yang dijadikan tunggangan selama perjalanan itu. Maka mereka bertiga bisa melesat dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 km/detik. Yang sebelumnya badan wadag Rasulullah Saw diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Hal ini untuk menyeimbangkan kwalitas badan Nabi dengan Jibril dan Buraq yang notabene keduanya adalah makhluk berbadan cahaya. (Penjelasan secara scientific bisa dibaca lebih lengkap di bukunya Mas Agus Mustofa, bukan promosi lho…tapi bagus untuk tambahan pengetahuan).

Kata kunci Kedua, yaitu Malam hari. Ingat kata kunci pertama! Agar Nabi bisa mengikuti kecepatan malaikat dan Buraq, maka badan Nabi diubah menjadi badan cahaya oleh Jibril. Sehingga ini mejadi “klop” dengan perjalanan malam hari. ini adalah alas an yang lebih bersifat teknis. Pada siang hari radiasi sinar matahari demikian kuatnya, sehingga bisa membahayakan badan Rasulullah Saw, yang sebenarnya memang bukan badan cahaya. Badan Nabi yang sesungguhnya, tentu saja, adalah badan materi. Perubahan menjadi badan cahaya itu bersifat sementara saja, sesuai kebutuhan untuk mrlakukan perjalanan bersama Jibril.

Dengan melakukannya pada malam hari, maka Allah telah menghindarkan Nabi dari interferensi gelombang yang bakal membahaykan badannya. Suasana malam memberikan kondiai yang baik buat perjalanan itu.

Sebagai gambaran sederhana, adalah gelombang suara. Jika malam-malam kita mencoba mendengarkan suara-suara, maka kita bisa mendengarkan dengan baik. Suara deru mobil di kejauhan, misalnya, bisa kita dengarkan dengan baik. Atau suara anjing menggonggong di tengah larut malam. Pendengaran kita menjadi demikian tajam dibandingkan siang hari. kenapa? Karena suara-suara tersebut tidak megalami interferensi atau gangguan gelombang yang terlalu besar, sehingga terdengar jernih.

Sama halnya mengapa Allah Swt. memerintahkan hambanya untuk bangun di malam hari. Bangun untuk melaksanakan qiyamullail (shalat tahajjud). Malam hari merupakan waktu istimewa untuk melakukan komunikasi dengan Allah Swt. Mengapa demikian? Karena pada malam hari jiwa kita bisa menjadi lebih focus dan khusuk. Keheningan di tengah-tengah sebagian manusia yang terlelap dalam tidurnya, disaat yang lain bermimpi kita bangun untuk mendekat kepada-Nya membuat hati ini mudah untuk berbicara dengan-Nya. Do’a kita lebih cepat sampai kepada-Nya. Ibarat teknologi sekarang, kalau kita berkomunikasi lewat telepon/hp pada malam hari biaya lebih murah dan lebih lancar karena malam hari bukan merupakan jam-jam sibuk bagi orang untuk berkomunikasi. Mengutip firman-Nya dalam al Qur’an :

“Sungguh bangun malam itu lebih kuat (untuk khusuk); dan (bacaan diwaktu itu) lebih berkesan”.(Q.S. al Muzammil:6).

Merujuk bukunya Mas Erbe Sentanu “the science & miracle of zona ikhlas”. Ada hubungan antara gelombang otak kita dengan perasaan khusuk dalam ibadah di tengah malam. Bagaimana tidak, disaat semua orang terlelap di gelombang Delta, oarng yang melakukan salat tahajud diminta bangun di tengah malam. Maka otaknya yang berfungsi sebagai antena penerima frekuensi harus beroperasi di tengah lautan frekuensi Delta yang berputaran rendah. Sehingga hampir mustahil orang memiliki gelombang otak Beta yang tinggi di tengah malam seperti itu. Hal inilah yang membuat otak mau tidak mau akan bergerak di gelombang yang hampir serupa dengan Delta, di sekitar Theta atau Alfa. Inilah gelombang otak yang secara teknis “lebih cepat untuk khusuk”. Dengan hormone seperti endhorpine, serotonin, dan AVP yang banyak diproduksi gelombang otak ini, membuat bacaan do’a pujian kita di saat seperti itu jadi lebih berkesan.

Dan istimewanya lagi bahwa waktu malam terutama di sepertiga malam terakhir / waktu sahur adalah waktu yang mustajabah. Dan kalau kita bisa memanfaatkannya Insya Allah do’a kita terkabul. Mudah-mudahan kita diberi kemampuan dan kemauan untuk bisa memelihara qiyamullail, istiqomah bangun di sepertiga malam, agar hati ini menjadi jernih. Semoga…


Wednesday, April 22, 2009

Kiamat Sudah Datang

Dari ufuk timur terlihat sebuah sinar yang begitu terangnya menggantikan cahaya rembulan yang mulai bersembunyi. Cerahnya pagi telah menggantikan malam. Bintang-bintang di langit bersembunyi dari pandangan manusia. Begitulah perjalannan waktu, pergantian masa yang sudah menjadi sunnatullah. Allahlah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam.

Pagi itu kami (aku dan rombongan) meluncur ke kota Tuban. Berangkat pukul 07.000 dari Sayung (sebuah daerah paling barat di kota Demak yang berbatasan dengan kota Semarang). Dengan jumlah kurang lebih 50 orang kami menggunakan bus menuju Kadilangu, sebuah desa dimana terdapat salah satu makam walisongo yaitu Raden Syahid yang kita kenal dengan sebutan Sunan Kalijaga. Iya… perjalanan kali ini adalah -rihlah wisata ziarah- perjalanan berkunjung/berziarah ke beberapa makam walisongo dan wisata tadabbur alam ke “Goa Akbar”. Makam walisongo yang kami kunjungi adalah makam Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Sungguh perjalanan yang penuh makna jika manusia mau berfikir tentang semua ciptaan-Nya. Semua kejadian yang terjadi di bumi Allah ini termasuk peristiwa kematian. Salah satu tujuan kita berziarah adalah untuk memngingat kematian. Sebagaimana Rasulullah tidak melarang umatnya untuk melakukan ziarah kubur tak lain adalah agar kita manusia mau mengingat peristiwa kiamat kecil ini. Sebuah peristiwa yang akan dialami oleh setiap insan yang bernyawa. Termasuk Waliyullah yang kami kunjungi kali ini, kiamat kecil itu sudah mendatangi meraka. Kematian tidak kenal siapa, kapan dan dimana. Kalau Allah sudah memerintahkan Izrail untuk mencabut nyawa maka kita manusia tidak bisa menghindar, berlari untuk menyelamatkan diri bahkan bersembunyi sekalipun. Sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh Sang Hujjatul Islam Imam Ghazali kepada muridnya, “Apa yang paling dekat dengan kita?” beberapa muridnya ada yang menjawab yang paling dekat dengan kita adalah orangtua kita, anak kita, saudara kita. Semua jawaban itu benar kata Sang Imam, tapi ketahuilah ada yang lebih dekat dengan kita yaitu kematian. Sudah menjadi ketetapan Allah kalau kamatian ini dekat dengan kita. Karena kemanapun dan dimanapun kita berada dia akan menjemput kita. Karena itu persiapkanlah bekal kita untuk perjalanan hidup selanjutnya sebelum yang menjemput kita datang.

Sudah tidak menjadi rahasia lagi kalau peristiwa kematian ini menjadi rahasia Allah. Manusia tidak tahu kapan, dimana dan dalam kondisi sedang apa dia akan kedatangan tamu yang bernama Izrail. Ada sebuah rahasia kenapa Allah merahasiakan tentang kematian ini. Pertama, agar kita tidak “cinta dunia”. Salah satu penyakit hati yang menjadikan kita lupa akan akhirat, lupa akan ada hidup setelah mati, lupa bahwa semua amal kita di dunia ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Itulah rahasia pertama kenapa Allah merahasiakan kematian agar kita tidak cinta kepada dunia hingga membuat kita lupa akan ada kehidupan setelah kematian. Kedua, tidak menunda amal kebaikan. Kalaupun kita diberi tahu bahwa besuk kita akan mati sudah sangat wajar dan pasti kita akan berbuat baik untuk hari ini. Tapi kenapa kematian tidak diberi tahukan sebelumnya, hal itu karena agar kita tidak lagi menunda-nunda untuk berbuat baik. Kita tidak tahu, mungkin satu menit, satu jam, satu hari, satu minggu atau kapan pun kita akan mati. Maka dengan begitu kita akan senantiasa berusaha berbuat kebaikan untuk mempersiapkan bekal jika sewaktu-waktu Izrail datang. Ketiga, mencegah maksiat. Orang mati itu sesuai dengan kebiasaanya. Tidak jarang kita temui, kita mendengar berita orang mati dalam kondisi mabuk, orang mati dalam kondisi bermaksiat (na’udzubillah mindzalik). Jangan sampai kita mempunyai kebiasaan buruk yang nantinya bisa membawa kita sampai pada ujung hidup kita. Mati dalam kondisi su’ulkhotimah. Yang kita harapkan adalah mati dengan akhir yang baik. Semoga… dan yang keempat kenapa Allah merahasiakan kematian adalah karena Dia ingin hambanya menjadi manusia yang cerdas. Hamba yang cerdas mampu mengubah sesuatu yang bersifat fana (rusak) menjadi baqa (kekal). Mengubah kehidupan dunia yang fana menjadi kekal. Mengubah harta yang fana yang dia miliki menjadi harta yang kekal. Bersedekah mampu mengubah harta kita yang fana menjadi kekal, menjadi infestasi yang dapat kita nikmati manfaatnya sampai besuk di akherat….

Dia tamu yang tak diundang, tamu yang datang atas perintah Allah. Yang siap menjemput kita kapan pun dan dimanapun. Dialah Izrail Sang Pencabut nyawa. Sudahkah kita siap untuk menyambut kedatangnnya…? Mari persiapkan mulai detik ini…untuk menyambut kehadirannya karena kita tidak tahu kapan dia akan datang…yang pasti kiamat kecil ini sudah mendatangi para pendahulu kita, kini tinggal menunggu giliran kapan kiamat itu datang kepada kita…


Wednesday, April 08, 2009

Terima Kasih telah Menggigitku

Malam itu tepatnya hari Salasa malam atau malam Rabu jarum jam menunjuk pukul sepuluh malam. Mata ini belum terasa mengantuk meskipun badan ini ingin beristirahat. Tanganku mengambil remote tv yang tak jauh dari aku dan aku pun menyalakannya. Muncul dilayar tv sebuah acara yang dibawakan oleh Iwel Wel yaitu acara “Kursi Panas” yang menghadirkan bintang tamu para kandidat RI-1 dan yang menjadi bintang tamu waktu itu adalah Mas Rizal Ramli….( kok jadi ngomongin acara tv). Aku pun melihatnya sampai acara selesai dan mata ini pun belum mau terpejam. Akhirnya setelah mencoba untuk memejamkan mata yang diawali dengan berdo’a “Bismikallahumma Ahya wa Amut” mata ini mulai mengantuk setelah seharian melakukan berbagai aktivitas. “Dengan menyebut nama-Mu ya Allah aku mati dan aku hidup”. Aku mencoba membaringkan tubuh ini dengan posisi miring ke kanan dengan niat dan harapan nanti bisa bangun malam, karena menurut analisa Ibnu Hajar bahwa orang yang tidur dengan miring ke sebelah kanan dapat mempercepat bangunnya; hati itu tergantung kepada bagain badan sebelah kanan. Sedang menurut Ibnu Aj-Jauzi, dengan mengutip pendapat para ahli kesehatan, bahwa tidur demikian menurut ilmu kesehatan dapat menyehatkan badan. Membaringkan badan dengan memulai ke sebelah kanan dapat menurunkan makanan, sedangkan tidur dengan miring ke kiri menyebabkan limpa menekan ke lambung. Tak terasa aku pun terlelap dalam mimpi indah…

Sungguh Allah Sang Mahapencipta yang sempurna. Yang telah menciptakan waktu siang dan malam agar manusia bisa bekerja, beramal dan beristirahat. Ketika aku pulas dalam tidurku tiba-tiba ada nyamuk yang menggigit aku. Saat itu juga aku pun terbangun. Dan aku membuka mata yang masih ngantuk ini melihat jam yang menempel di dinding. Jarum jam menunjuk ke angka 4 (kurang sedikit) dan jarum menit menunjuk ke angka 6. Berarti waktu sudah menunjukkan pukul 03.30 atau setengan empat. “Alhamdulillahilladziahyana ba’dama amatana wa ilahinnusyur”. “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kematian kami. Hanya kepada-Nya lah kami kembali". Aku pun bangun, berjalan menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu untuk qiyamul lail. Memang tidak ada yang sia-sia dari semua yang Allah ciptakan. Termasuk penciptan binatang yang bernama nyamuk. Mungkin kita berfikir bahwa nyamuk itu sumber penyakit bagi manusia. Tapi malam itu Allah telah membangunkan aku dari tidurku dengan gigitan nyamuk. Mungkin saja kalau nyamuk itu tidak menggigitku aku tidak akan bangun dan ber-qiyamul lail. Terima kasih engkau (nyamuk) telah menggigitku. Terima kasih ya Allah… Engkau telah mengirimkan nyamuk itu untuk membangunkan hamba-Mu yang terlelap dalam tidurnya supaya bermunajat, berdzikir dan berdo’a kepada-Mu.